Coretan Hidupku (Warna-Warni Pelangi)

Kalau benar hidup kita awalnya adalah kertas putih seperti kata John Locke, maka setiap fase dan kejadian dalam hidup kita adalah coretan-coretan di atas kertas putih, coretan kehidupan kita.
Kelak, coretan-coretan itulah yang akan membentuk siapa kita. Apakah coretan-coretan itu akan menjadi warna-warni pelangi atau hanya coretan tanpa makna?
Kamu nggak akan tahu pasti, sama halnya denganku. Tapi, nggak ada salahnya kok berharap coretan itu bisa jadi warna-warni pelangi, minimal dimata kita sendiri, dan lebih baik lagi dimata orang lain. .
(^^)


Cintaku padamu akan kujadikan titian jalanku untuk mencintai Allah
Reblogged from riseafterfall-deactivated201306

riseafterfall:

Saya sudah membeli kamera tahan air. Sunblock bisa kita beli sebelum berangkat. Handuk selalu tersedia, dan kita selalu percaya bahwa minuman kaleng adalah teknologi. Jadi kapan kita ke pantai?

Saya butuh dibohongi, seperti laut yang berpura-pura biru, padahal dia tidak berwarna. Seperti langit yang berpura-pura cerah, lalu berubah keemasan, padahal sebenarnya hitam. Seperti kapal layar yang terlihat membesar di cakrawala, padahal dia selalu kecil dan siap ditelan ombak.

Saya akan menyiapkan bekal dalam keranjang dan topi jerami. Tapi jika itu berlebihan, saya hanya akan memotret ikan. Lalu kita, dengan snorkel. Mungkin matahari, sebagai pembohong, sekaligus penafkah terbaik bagi bumi. Karang-karang dan kulit kerang. Saya akan memotret laut dangkal.

Jadi kapan kita ke pantai?

Saya butuh menulis di pasir. Menulis satu-dua kata tentang ketidak-ikhlasan. Agar semua hilang ketika pasang datang dan kita pulang.

Menghanyutkan gelisah ke samudra…

(via avinaninasia)

Reblogged from typewrittenword

Sometimes, a good listener forget how to be a good speaker. .
And sometimes, a good speaker forget how to be a good listener. .

Kau & Hujan Hari Ini

Hari ini benar-benar gelap, mendung benar-benar pekat di luar sana.

Sama seperti wajahmu hari ini. Benar-benar gelap. Bahkan lebih gelap daripada mendung di luar sana.

Kau terlihat benar-benar menyedihkan hari ini. Aku tak lagi melihat mentari hangat di pancaran matamu yang selalu dapat kulihat setiap pagi sebelum kau berangkat kuliah. Hari ini matamu benar-benar gelap, bahkan lebih gelap daripada mendung di luar sana, wajahmu melaporkan tengah terjadi badai dalam hatimu.

Mendung di luar benar-benar gelap, tapi tak segelap matamu. Mendung di luar benar-benar pekat, tapi tak sepekat hatimu.

Tak lama kemudian, mendung menunjukkan tanda-tanda menyerah, sepertinya ia sudah tak kuat menahan beban dalam dirinya. Hujanpun turun, mengiringimu yang berjalan perlahan mendekatiku.

Hari ini benar-benar gelap, tapi tak menghalangiku melihat matamu yang lebih gelap. Jarak kita sekarang begitu dekat, aku bahkan bisa merasakan hangat nafasmu di tubuhku. Semakin lama nafasmu semakin tak beraturan. Dan aku tahu kau masih berusaha menahan badai dalam hatimu.

Tak lama kemudian, kau menunjukkan tanda-tanda menyerah, sepertinya kau sudah tak kuat menahan badai dalam hatimu. Kaupun menangis. Badai itu sepertinya benar-benar kuat. Kau tidak mampu menahannya lebih lama lagi.

Hujan turun semakin deras, kau menangis semakin keras. Kau menatapku lama, dengan air mata yang terus mengalir menyusuri pipi chubby-mu. Kau benar-benar terlihat terpuruk, terluka, sendiri. Kau masih menatapku, matamu penuh dengan pertanyaan “Kenapa?”.

Aaah, andai saja aku punya dua tangan yang bisa memelukmu, sekedar memberimu kenyamanan, sekedar memberimu kepastian bahwa kau tak sendiri. Tapi, maafkan aku. Aku tak ditakdirkan memiliki tangan. Aku hanya bergeming di hadapanmu.

Aaah, andai saja aku punya mulut, aku bisa bersuara untukmu, sekedar memberikan kata “Tak mengapa. Bersabarlah,” sekedar menenangkanmu. Tapi, maafkan aku. Aku tak ditakdirkan memiliki mulut. Aku hanya bisa diam di hadapanmu.

Hujan sudah mulai reda, mentari sudah mulai muncul, dan lihatlah pelangi juga sudah mulai terbentuk. Tapi kau masih menangis, matamu masih gelap, badai di hatimu belum mereda.

Maafkan aku. Maafkan aku yang ditakdirkan tanpa tangan dan mulut. Maafkan aku yang bergeming dan hanya bisa diam sambil memantulkan bayangan dirimu yang menyedihkan untuk dirimu. Maafkan aku. Maafkan takdirku yang hanya menjadi cermin di kamar kosmu.

Hati-Hati yang Meragu

Sepertinya kita sama-sama tahu
Hatiku padamu
Hatimu padaku

Terlukis samar dalam tatapan
Dalam lambaian
Dalam ucapan
Dalam harapan

Hingga kita terikat satu sama lain
Ikatan tanpa nama dan tanpa makna
Ikatan yang menyiksa
Ikatan yang membungkam
Hingga rindu ini tak dapat tersampaikan

Karena sepertinya kita sama-sama tidak yakin
Kamu padaku
Aku padamu

Dan tanpa kita sadari
Semuanya menjelma menjadi bosan

Hati kita sama-sama meragu
Hatiku
Hatimu
Hati-Hati yang meragu

Venia (Forgiveness) (by Kolibre)

“When deep injury is done to us, we never recover until we forgive…
Forgiveness does not change the past.
But it does enlarge the future.”

-Mary Karen Read-

Jodoh Sungai adalah Samudra…

Sungai dan Samudra itu jodoh.
Karena semua Sungai akan kembali dan bertemu dengan Samudra.
Sungai yang mengalir maupun yang tersumbat.
Sungai yang bersih maupun kotor.

Melalui aliran sungai itu sendiri, maupun melalui uap-uap air yang turun menjadi hujan, maupun melalui celah air-air tanah.
Sungai selalu punya cara untuk kembali bertemu dengan Samudra.

Karena mereka memang ditakdirkan untuk berjodoh.
Semua yang ditakdirkan untuk berjodoh pasti akan bertemu dengan berbagai cara.

Jadi, jangan khawatir…

(inspired by Perjalanan Rasa, author: Fahd Djibran)

Let's meet. .

  • Cinta : Hai, Kasih. :) <sent>
  • Kasih : Hai juga, Cinta :) <sent>
  • Cinta : Kita ini lucu ya. Hehe <sent>
  • Kasih : Hah? Maksudnya? <sent>
  • Cinta : HP kita selalu terhubung lewat sinyal provider. Socmed kita juga selalu terhubung lewat internet. Kita yang ada di HP dan socmed sepertinya lebih sering bertemu daripada kita. Sepertinya bentuk maya kita lebih asik daripada kita yang nyata. Benar-benar lucu ya. Hehe. <sent>
  • Kasih : Kita akan baik-baik saja kan? <sent>
  • Cinta : Pasti. Kita pasti akan baik-baik saja. Selama kita menjaga tali yang telah kita jalin. Sinyal dan internet itu sepertinya bisa membantu. <sent>
  • Kasih : Ya, kamu benar. Kita pasti akan baik-baik saja. Let's meet. :) <sent>
  • Cinta : That's better than signal. Hehe. C u. :) <sent>
  • Kasih : Thank's. C u :) <sent>

SMS (Takutnya Kamu Sibuk)

Me    : Oi.oi. Apa kareba? :) <sent>
Her   : Baik. Kamu apa kabar? <sent>
Me    : Alhamdulillah sehat. Gimana kuliahnya? Sebentar lagi skripsi ya? <sent>
Her    : Baik juga. Iya, insyaallah. Kamu kok tiba-tiba sms? aku agak terkejut. Hehe. . <sent>
Me    : Habis nunggu di sms pasti nggak di sms-sms. Hehe. . <sent>
Her   : Takutnya kamu sibuk kalau aku sms. <sent>
Me    : Sesibuk apapun aku, aku bakal punya waktu untuk balas sms kamu. Mungkin nggak langsung bales. Tapi kalau kamu mau nunggu, aku pasti balas, Sms kamu nggak akan ganggu aku sama sekali.
*hapus, nggak jadi dikirim
Me    : Hehe. . <sent>


Sebaris sms yang berani aku kirimkan lebih dulu, tanpa peduli kamu sibuk atau tidak, adalah bukti bahwa aku masih menggenggam erat “tali” yang mulai rapuh ini. But, it seems you don’t realize it.