Hari ini benar-benar gelap, mendung benar-benar pekat di luar sana.
Sama seperti wajahmu hari ini. Benar-benar gelap. Bahkan lebih gelap daripada mendung di luar sana.
Kau terlihat benar-benar menyedihkan hari ini. Aku tak lagi melihat mentari hangat di pancaran matamu yang selalu dapat kulihat setiap pagi sebelum kau berangkat kuliah. Hari ini matamu benar-benar gelap, bahkan lebih gelap daripada mendung di luar sana, wajahmu melaporkan tengah terjadi badai dalam hatimu.
Mendung di luar benar-benar gelap, tapi tak segelap matamu. Mendung di luar benar-benar pekat, tapi tak sepekat hatimu.
Tak lama kemudian, mendung menunjukkan tanda-tanda menyerah, sepertinya ia sudah tak kuat menahan beban dalam dirinya. Hujanpun turun, mengiringimu yang berjalan perlahan mendekatiku.
Hari ini benar-benar gelap, tapi tak menghalangiku melihat matamu yang lebih gelap. Jarak kita sekarang begitu dekat, aku bahkan bisa merasakan hangat nafasmu di tubuhku. Semakin lama nafasmu semakin tak beraturan. Dan aku tahu kau masih berusaha menahan badai dalam hatimu.
Tak lama kemudian, kau menunjukkan tanda-tanda menyerah, sepertinya kau sudah tak kuat menahan badai dalam hatimu. Kaupun menangis. Badai itu sepertinya benar-benar kuat. Kau tidak mampu menahannya lebih lama lagi.
Hujan turun semakin deras, kau menangis semakin keras. Kau menatapku lama, dengan air mata yang terus mengalir menyusuri pipi chubby-mu. Kau benar-benar terlihat terpuruk, terluka, sendiri. Kau masih menatapku, matamu penuh dengan pertanyaan “Kenapa?”.
Aaah, andai saja aku punya dua tangan yang bisa memelukmu, sekedar memberimu kenyamanan, sekedar memberimu kepastian bahwa kau tak sendiri. Tapi, maafkan aku. Aku tak ditakdirkan memiliki tangan. Aku hanya bergeming di hadapanmu.
Aaah, andai saja aku punya mulut, aku bisa bersuara untukmu, sekedar memberikan kata “Tak mengapa. Bersabarlah,” sekedar menenangkanmu. Tapi, maafkan aku. Aku tak ditakdirkan memiliki mulut. Aku hanya bisa diam di hadapanmu.
Hujan sudah mulai reda, mentari sudah mulai muncul, dan lihatlah pelangi juga sudah mulai terbentuk. Tapi kau masih menangis, matamu masih gelap, badai di hatimu belum mereda.
Maafkan aku. Maafkan aku yang ditakdirkan tanpa tangan dan mulut. Maafkan aku yang bergeming dan hanya bisa diam sambil memantulkan bayangan dirimu yang menyedihkan untuk dirimu. Maafkan aku. Maafkan takdirku yang hanya menjadi cermin di kamar kosmu.